
Bengong di kawah
Hayo hayo sapa yang belum pernah kesini? sayang sekali kalau sudah mampir ke kota Bandung tapi belum menyempatkan diri ke lokasi ini. Apalagi setelah diambil alih oleh pihak swasta yang membuat pedagang agak terlihat teratur dan sedikit rapi walau masih ada persengketaan antara pemprov.
Sebenarnya yang saya akan posting disadur dari tulisan Bang Ridwan Hutagalung, dedengkotan klub aleut. Btw tau klub aleut? wah kurang gaul berati (wkwkwkwk). Nanti deh dibahas ttg klub aleut walau sapa bukan orang eksis disana tapi suka mampir ke sekrenya (juga bukan buat urusan aleut tapi yang lain deh.. ).Tapi jujur aja gw agak kapok ama insting anak2 aleut yang bikin gw harus jalan kaki 6 jam ke puncak Tangkuban perahu (but my exciting experience passing new track). Mau tau apa aja yg diceritakan bang ridwan? yuk ah
Konon pendakian pertama Gn. Tangkuban Parahu dilakukan oleh Abraham van Riebeeck pada tahun 1713. Pendakian ini merupakan misi pencarian belerang sebagai bahan campuran pembuatan bubuk mesiu untuk meriam dan bedil. Saat itu tentu saja belum ada jalur jalan seperti sekarang, sehingga pendakian ke puncak gunung dengan ketinggian 2.076 mdpl itu bisa sangat melelahkan. Akibatnya memang fatal bagi van Riebeeck, beliau meninggal dalam perjalanan pulang dari puncak Tangkuban Parahu tanggal 13 November 1713 karena tenaga yang habis terkuras. Sebelumnya van Riebeeck juga sudah mendaki Gn. Papandayan di sebelah selatan. Beruntung van Riebeeck sempat meninggalkan catatan-catatan yang kemudian menyadarkan Kompeni Belanda tentang potensi alam Tatar Ukur (Priangan) waktu itu. {1}

peta kawah dan trekking pada masa jaman hindia
Abraham van Riebeeck adalah putra Joan van Riebeeck, pendiri Capetown di Afrika Selatan. Pada tahun 1712 ia mendarat di Wijnkoopsbaai (sekarang Pelabuhan Ratu) sebagai salah satu orang pertama yang memperkenalkan tanaman kopi ke Pulau Jawa.{2} Kelak penanaman kopi ini akan menjadi salah satu andalan hasil bumi Priangan hingga dipaksakan penanamannya mulai tahun 1831 melalui kebijakan cultuurstelsel atau sistem tanam paksa sebagai upaya pemulihan kas Hindia Belanda yang tersedot akibat Perang Diponegoro (atau Perang Jawa, 1825-1830).{3} Sayangnya kebijakan ini memakan sangat banyak korban di pihak pribumi yang dipaksa untuk bekerja tanpa henti serta sama sekali tak menerima hasil jerih payahnya. Cultuurstelsel kemudian dihapuskan pada tahun 1870 (di Priangan baru pada 1917) akibat kecaman dari berbagai pihak atas eksploitasi ini. Di antara mereka yang mengecam adalah Multatuli lewat bukunya yang terkenal, “Max Havelaar”. {4}
Di wilayah Bandung penanaman kopi dilakukan di lereng-lereng pegunungan yang mengitari Bandung, termasuk lereng Gn. Tangkuban Parahu {5}, Lembang, hingga ke dataran tinggi di kawasan Ciumbuleuit. Hasil kopi kemudian dibawa melalui jalan tradisional atau setapak ke sebelah selatan di antaranya ke koffiepakhuis (gudang kopi) milik preangerplanter Dr. Andries de Wilde {6} di lokasi Gedung Balaikota sekarang. Setelah diolah kemudian kopi dibawa menggunakan gerobak pedati melewati Bragaweg menuju Grootepostweg dan seterusnya ke pelabuhan laut di Batavia.

Koffiepakhuis di lokasi Balaikota sekarang (KITLV).
Keberadaan tanaman kopi di lereng Gn. Tangkuban Parahu hingga Ciumbuleuit juga disebut dalam catatan perjalanan Charles Walter Kinloch yang dibukukan dengan judul Rambles in Java. Kinloch menulis tentang keasrian kawasan perkebunan di utara Bandung dan mengunjungi pemilik kebun kopi terbesar di Priangan saat itu, Mr. Philippean yang memiliki sejuta pohon kopi di kawasan Lembang.{7}

- Pos perkebunan di daerah Ciumbuleuit (KITLV).
Sedikit tambahan mengenai Abraham van Riebeeck, sebelum mengeksplorasi Tatar Ukur pada 1712-1713, ia sudah menjelajahi wilayah di selatan Batavia (yang kelak akan menjadi Bogor) dalam kedudukannya sebagai pegawai tinggi VOC. Pada tahun 1703 dan 1704 (kemudian juga pada 1709) van Riebeeck mengadakan penelitian ke kawasan bekas ibukota Pajajaran (Pakuan) dan membuat laporan mengenai kondisinya saat itu.{8} Riebeeck memang tercatat dua kali menjabat sebagai Inspektur Jenderal dan menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada periode 1709-1713.
Sekarang untuk menuju puncak Tangkuban Parahu sudah sangat mudah. Jalan aspal sepanjang 4 kilometer ke bibir Kawah Ratu sudah dibangun sebagai salah satu program pertama perkumpulan Bandoeng Vooruit pada tahun 1928. Jalan aspal ini dahulu dinamakan Hooglandweg, mengambil nama ketua Bandoeng Vooruit, W.H. Hoogland, yang juga menjabat sebagai direktur Bank DENIS (sekarang Bank Jabar Banten, di Jl. Braga). Hoogland juga pernah menulis buku panduan wisata berjudul “Gids van Bandoeng en Midden-Priangan” (1927) bersama S.A. Reitsma. Bandoeng Vooruit juga membangun sebuah monumen bagi tiga siswa HBS yang pada tahun 1924 meninggal karena keracunan gas saat berjalan-jalan di tepi kawah. Monumen ini masih dapat ditemui salah satu sisi bibir kawah Upas.

Gimana? infonya baguskan, jadi kalau jalan-jalan ama aleut, selalu menyajikan sejarah dan asal muasal. Bagi yang mo ke ikut coba aja ke sekrenya di jalan sumur bandung 4.
Aku pernah ikutan jalan2 sama klab aleut sekali waktu SMA… Tapi aku ke braga – gedung sate aja, gak kek gaw 6 jam jalan ke tangkuban parahu? omgosh XD
terakhir kali aku ke tangkuban parahu waktu masih kecil banget…gak inget..cuma inget bau belerang.haha.
wah dah lama banget yah? padhal byk sisi lain dari tangkuban tuh
foto yg paling atas keren gan
Blog baru ga? Jadi pengen ke Bandung lagi gw gara2 blog lu. Jakarta panas… Enakan Bandung
iya nih, susah juga mo nulis sesuatu
waoowww, foto paling ataaaassss \m/
itu foto ngambilnya padahal pake timer, jadi bagus gitu yak. sapa dulu yg ngedit mhuahahahahahah *plaaakk*
jadi pengen ke sana nih
“Hayo hayo sapa yang belum pernah kesini?”
*lompat-lompat sambil acung jari manis*